Selasa, 18 Juni 2013
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Saturday, 04 February 2012 10:57

Tak Kenal Maka Tak Sayang

Pekan Budaya Tionghoa VII yang tengah dilakukan di Jogjakarta menjadi acara yang menarik. Tidak hanya bagi kalangan tionghoa yang mengingatkan anak muda dari kalangan mereka agar mengetahui dan mencintai budaya luhurnya. Pesta yang mengangkat budaya Tionghoa ini menjadi ilmu pengetahuan dan wawasan bagi seluruh masyarakat Jogjakarta dan sekitarnya.
“Lewat pengetahuan budaya ini, seluruh masyarakat Jogjakarta bisa mengetahui, mengenal budaya yang dibawa masyarakat keturunan, bukankah tidak kenal maka tidak sayang,”kata Hoei King Bing, Tokoh Masyarakat Tionghoa Jogjakarta di kantornya, kemarin.(2/3).
Koh Bing-sapaan akrab Hoei King Bing meneruskan, sebagai budaya yang mewarnai kehidupan Jogjakarta yang dikenal wadah berbagai budaya yang ada di Indonesia, pesta budaya ini layak dipertahankan dan menjadi agenda budaya dan wisata yang akan setiap tahun hadir di Kota Jogja. “Seluruh masyarakat Tionghoa pasti mendukung keberadaan pesta rakyat ini,” katanya.
Pemilik nama Indonesia R Herianto Kurniawan MBA mengatakan, kebebasan berbudaya seperti sekarang ini tidak lepas dari jasa presiden Abdurahman Wahid alias Gus Dur. Untungnya lagi, presiden SBY sekarang juga memberi jasa bagi kelangsungan dan kedamaian bagi semua masyarakat dalam menjalankan aktifitas budaya.
Direktur Toko Mas Rukun ini mengingatkan, semua kalangan mestinya bersyukur dengan adanya kemudahan tersebut.
“Semoga ini bisa langgeng di Indonesia. Karena kerukunan, damai dan bahagia bersama sangat bagus untuk kehidupan bernegara di Indonesia,” katanya.
Diingatkan oleh Koh Bing, ada kisah yang bisa menarik perhatian pembaca. Pada awal tahun Dinasti Tang (618 – 907), Negara Turki di bagian utara sering mengutus pasukan mereka untuk menganiaya rakyat Tang yang bermukim di sepanjang daerah perbatasan bagian utara.
Hal ini membuat penduduk di sana kehilangan nyawa dan harta dalam jumlah besar, juga mengancam keamanan ibu kotanya, Chang An. Kaisar Tang Tai Zong memerintahkan dua jendralnya, Li Jing dan Li Ji untuk memimpin pasukan mereka menyerang Turki. Kejadian itu membuat Turki  terpukul mundur dalam wktu singkat.
Jieli Khan, pemimpin orang Turki, berpura-pura ingin berdamai dengan Kaisar Tang Tai Zong. Kaisar setuju mengirimkan utusan untuk bernegoisasi dengan Jeili Khan. Kesempatan bagus yang sayang untuk dilewatkan tersebut, Li Jing mengusulkan agar mereka memanfaatkannya untuk menghancurkan Turki.
Akhirnya, Li Jing yang memimpin pasukan berjumlah sepuluh ribu tentara untuk menyerang perkemahan Turki. Orang Turki sama sekali tidak siap menghadapi serangan mendadak itu. Mereka melarikan diri, sementara Jieli Khan dijadikan tawanan.(hes)

 
Banner
Copyright © 2008 PT. Yogyakarta Intermedia Pers. All rights reserved.