|
Pemkot Tertibkan Satgas Bencana
JOGJA - Pemkot Jogja akan menertibkan Satuan Tugas (Satgas) Bencana di Kota Jogja dengan mendata setiap komunitas yang ada. Ini, sebagai persiapan personel Satgas Bencana sebelum Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) resmi dibentuk.
Menurut Koordinator Badan Koordinasi Penanggulangan Bencana Daerah (BKPBD) Kota Jogja Eko Suryo Maharso, penertiban juga sebagai bagian dari upaya memudahkan koordinasi dengan relawan. Apalagi, jumlah relawan cukup banyak dan sampai saat ini sama sekali belum terdata resmi. ’’Kecamatan sudah kami minta melakukan pendataan. Tetapi harapannya komunitas-komunitas juga bersikap proaktif untuk melaporkan keberadaannya ke kecamatan,’’ kata Eko kemarin (11/3). Asisten Sekda II Kota Jogja itu menerangkan, komunitas relawan akan digandeng untuk melakukan penanggulangan bencana dan masuk dalam BPBD. Karena itu, pemkot kini terus melakukan sosialisasi kepada komunitas-komunitas itu untuk bisa memenuhi sejumlah syarat. Di antaranya adalah berbadan hukum, memiliki 50 orang relawan di tingkat kecamatan, dan relawan adalah warga yang bertempat tinggal di kecamatan tersebut. Menanggapi instruksi pemkot, Komunitas Relawan Bencana Pareanom mengakui, tengah memproses beberapa izin. Komunitas yang aktif dalam kegiatan sosial dan kebencanaan itu mengantongi HO, IMB, dan Januari lalu baru dapat SPP. ’’Tanggal 6 Maret turun izin frekuensi resmi dari Depkominfo. Tetapi dari Depdagri masih belum, karena yang mengerjakan notaris. Ini secepatnya harus kami kejar,’’ tandas Koordinator Pareanom Aki Lukman Nur Hakim kemarin. Pareanom, menurut dia, merupakan bagian dari Laskar Kadipaten Pakualaman yang dibentuk untuk berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Berbagai aktivitas yang dilakukan pada awalnya adalah kegiatan musik dan tari. Tetapi dalam perkembangannya, karena anggota semakin banyak, aktivitas yang terbentuk berkembang ke aksi sosial seperti tanggap bencana. Pengembangan aktivitas organisasi tersebut semakin bersemangat saat erupsi Merapi akhir 2010 lalu. Anggota Pareanom mencoba ikut membangun komunikasi warga yang tinggal di bantaran sungai di Jogja. Khususnya warga bantaran Kali Code dan Winongo yang juga terdampak dari letusan gunung teraktif di Jawa tersebut. Dari catatan organisasi tersebut, saat ini tercatat ada 169 anggota yang terdaftar secara resmi. Tapi, baru 129 orang yang sudah melakukan daftar ulang untuk kembali mencatatkan diri keanggotaannya. ’’Kami juga sudah punya koordinator wilayah di Sleman dan Bantul karena di dua kawasan itu rawan bencana banjir,’’ tandasnya. (eri/abd)
|